WELCOME

WELCOME TO MY SITE AND STAY TUNE !!!

Kamis, 06 September 2012

PENGEMBANGAN SAPI PERAH INDONESIA

PERUMUSAN SEMENTARA HASIL WORKSHOP PENGEMBANGAN SAPI PERAH INDONESIA
“MENYONGSONG SWASEMBADA SUSU TAHUN 2020


 
Tim Perumus
BBPTU – SAPI PERAH
The Rich Hotel, Jogjakarta 23 Juni 2012

PENDAHULUAN

1. Susu sebagai komoditi sumber gizi, utamanya bagi masyarakat berpenghasilan rendah
2. Tantangan global dan nasional
3. Komitmen dalam membangun peternakan rakyat, koperasi, ekonomi perdesaan, kesehatan lingkungan dan gizi masyakat
4. Tahun 2020 dimulainya perdagangan bebas
5. Pola konsumsi susu nasional yang rendah, Kontribusi SSDN (20-30)%, impor sekitar 70 % terjadi pengurasan devisa
6. Potensi SDA dan SDM yang memadai

RENCANA AKSI

1. PEMUTAHIRAN DATA
2. SIMULASI TERHADAP PROGRAM TEROBOSAN
3. PROGRAM LINTAS KEMENTRIAN
4. GRAND DESIGN PERSUSUAN NASIONAL
5. KOMITMEN POLITIK MELALUI PERPRES

DISKUSI RENCANA AKSI PENDUKUNG SWASEMBADA SUSU
BIDANG PERBIBITAN

1. Susu untuk sapi perah Indonesia
2. Penyelamatan pedet dan betina bibit hasil progeny test per tahun sekitar 100 ribuan ekor melalui program penangkar bibit
3. Populasi dasar yang ada di peternakan rakyat

DISKUSI RENCANA AKSI PENDUKUNG SWASEMBADA SUSU BIDANG REPRODUKSI DAN KESEHATAN HEWAN

1. Peningkatan mutu genetik, FH Indonesia.
2. Revitalisasi kelembagaan (Poskeswan, tenaga medik dan paramedik outsourcing)
3. Penanggulangan gangguan reproduksi (pencegahan penyakit reprod dan fisiologi) peningkatan keterampilan ATR.
4. Penanganan kematian pedet di bawah 3 bulan, Penanggulangan penyakit cacing.
5. Manajemen kesehatan kelompok sapi perah
6. Harmonisasi Protokol kesehatan dan bibit impor dengan Australia dan New Zealand

DISKUSI RENCANA AKSI PENDUKUNG SWASEMBADA SUSU
BIDANG PAKAN, BUDIDAYA DAN KOPERASI
1. Ketersediaan lahan untuk produksi hijauan pakan (?) konversi lahan pertanian, pakan berbasis produk domestik.
2. Tingkat adopsi teknologi pakan masih sangat rendah.
3. Persaingan FOOD-FEED-FUEL; ketersediaan pakan siap saji secara bersama dalam bentuk “completed feed”
4. Membangun industri pakan dan bahan pakan, subsidi pakan (?)
5. Industri sapi perah berbasis pakan
6. Impor Bibit sapi, KUPS, Rearing dan optimalisasi IB dan TE.
7. Pengembangan pemasaran dan lembaga usaha serta kawasan.
8. Peluang industri persusuan Nasional, upaya, produksi dan target-target tahun 2020 dapat diprediksi.
9. Lintas kementrian dalam merevitalisasi melaui Perpres.
10. Revitalisasi koperasi susu nasional yang tangguh, sehat dan mandiri, melalui upaya peningkatan skala usaha ekonomi yang layak.
11. SAING (kedaulatan pangan dengan terbentuknya bangsa sapi holstein Indonesia, teknologi driven)
12. ASPEK KELEMBAGAAN, DENGAN UPAYA MEREPOSISI KOPERASI PERSUSUAN MENUJU “GENERASI BARU KOPERASI” (NGC) dengan SCM YANG 13.TANGGUH, tercipta pasar kondusif
14. Regionalisasi PERSUSUAN NASIONAL BERBASIS POTENSI DOMESTIK……(pengembangan wilayah dan model Industri susu skala menengah berbasis SSDN)
15. Pemanfaatan dana PSO untuk program perbibitan dengan pembuatan PEDUM Kementan.
16. GERAKAN NASIONAL PENGENDALIAN MATITIS KLINIS DAN SUB KLINIS
17. PROGRAM KONSUMSI SSDN BAGI SISWA SEKOLAH DASAR
18. INOVASI KETERSEDIAAN PAKAN TERJAMIN DAN MUDAH DIAKSES.

PROGRAM TEROBOSAN

1. ASPEK PRODUKSI, MENCIPTAKAN PRODUK SUSU YANG BERDAYA SAING (kedaulatan pangan dengan terbentuknya bangsa sapi holstein Indonesia, teknologi
driven)
2. ASPEK KELEMBAGAAN, DENGAN UPAYA MEREPOSISI KOPERASI PERSUSUAN MENUJU “GENERASI BARU KOPERASI” (NGC) dengan SCM YANG TANGGUH,
tercipta pasar kondusif
3. Regionalisasi PERSUSUAN NASIONAL BERBASIS POTENSI DOMESTIK…(pengembangan wilayah dan model Industri susu skala menengah berbasis SSDN)
4. Pemanfaatan dana PSO untuk program perbibitan dengan pembuatan PEDOMAN UMUM Kementan.
5. GERAKAN NASIONAL PENGENDALIAN MATITIS KLINIS DAN SUB KLINIS
6. PROGRAM KONSUMSI SSDN BAGI SISWA SEKOLAH DASAR
7. INOVASI KETERSEDIAAN PAKAN TERJAMIN DAN MUDAH DIAKSES.

PENUTUP

KOMITMEN STAKEHOLDER

1. Dukungan kebijakan politik di DPR, agar program swasembada susu masuk kedalam agenda program nasional lintas kementrian.
2. Dukungan kebijakan fiskal dan Moneter
3. Masuk ke pidato presiden tanggal 16 Agustus 2012
4. Seluruh bahan diskusi workshop pengembangan sapi perah indonesia sebagai dokumen resmi swasembada susu
5. Pernyataan sikap bersama para stakehoder

News Hits

Peternak Sapi Perah di Indonesia Belum Untung

JAKARTA, KOMPAS.com — Sebagian besar peternak sapi perah di Indonesia belum menikmati keuntungan.
Hal itu terjadi karena rata-rata kemampuan kepemilikan sapi perah rendah, hanya 2-3 ekor. Akibatnya, pendapatan dari produksi susu belum mampu menutup biaya produksi harian.  
Peternak sapi perah baru bisa menikmati keuntungan kalau mereka membudidayakan minimal delapan sapi dengan produksi susu 15-20 liter per hari.
"Ketika sebagian sapi perah tidak produksi, sebagian lagi masih ada yang produksi sehingga tetap ada pendapatan bagi peternak," ujar Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan, Selasa (26/6/2012), di Jakarta.  
Populasi sapi perah di Indonesia saat ini mencapai 603.000 ekor dengan produksi 909.000 ton susu segar setiap tahun. Produksi susu ini dikelola peternak kecil dan ditampung 95 koperasi susu.  
Produksi susu ini hanya mampu memenuhi 30 persen kebutuhan konsumsi masyarakat. Sebanyak 70 persen kebutuhan susu masih mengandalkan impor dalam bentuk susu olahan.
Editor :
Agus Mulyadi

Data Sapi

DATA POPULASI SAPI ( POTONG – PERAH ) DAN KERBAU DI INDONESIA 2011 / 2012


Pendataan Sapi dan Kerbau Sudah Selesai Dilaksanakan...Lanjutkan Gan...  tapi bukan demokrat loh...
Berdasarkan hasil PSPK 2011 populasi sapi potong di Indonesia pada tahun 2011 tercatat 14,8 juta ekor. Secara regional/pulau, populasi sapi potong sebagian besar terdapat di pulau Jawa sebanyak 7,5 juta ekor atau 50,74 persen dari total populasi sapi potong di Indonesia, kemudian pulau Sumatera sebanyak 2,7 juta ekor atau 18,40 persen; Bali dan Nusa Tenggara 2,1 juta ekor atau 14,19 persen; Sulawesi 1,8 juta ekor atau 11,97 persen, sedangkan sisanya berada di Kalimantan, serta Maluku dan Papua dengan jumlah populasi masing-masing kurang dari 0,5 juta ekor.
Provinsi Jawa Timur merupakan provinsi dengan populasi sapi potong terbesar di Indonesia sebanyak 4,7 juta ekor atau 31,93 persen dari populasi sapi potong di Indonesia disusul kemudian Jawa Tengah 1,9 juta ekor. Provinsi lain yang memiliki populasi sapi potong cukup besar, yaitu lebih dari 0,5 juta ekor tercatat berturut turut adalah Sulawesi Selatan 984 ribu ekor atau 6,65 persen, Nusa Tenggara Timur (NTT) 778,2 ribu ekor atau 5,26 persen; Lampung 742,8 ribu ekor atau 5,02 persen; Nusa Tenggara Barat (NTB) 685,8 ribu ekor atau 4,63 persen; Bali 637,5 ribu ekor atau 4,31 persen; dan Sumatera Utara 541,7 ribu ekor atau 3,66 persen dari populasi sapi potong Indonesia.
Gambaran kondisi peternakan sapi perah di Indonesia juga menunjukkan hal yang sama dengan sapi potong bahwa usaha peternakan sapi perah masih dominan di Pulau Jawa. Hal tersebut ditunjukkan dengan besarnya populasi sapi perah di Pulau Jawa yang mencapai lebih dari 99 persen dari total populasi sapi perah Indonesia sebanyak 597,1 ribu ekor. Dari jumlah tersebut 592,4 ribu ekor diantaranya berada di Pulau Jawa. Populasi sapi perah di pulau Sumatera hanya mencapai 2.388 ekor atau hanya 0,40 persen dari populasi Indonesia, dan sebagian kecil lainnya tersebar di pulau Sulawesi, Kalimantan, Bali dan Nusa Tenggara.
Menurut provinsi, populasi sapi perah terbesar adalah Jawa Timur sekitar 296,3 ribu ekor atau 49,61 persen dari total populasi sapi perah Indonesia. Provinsi lain yang memiliki populasi sapi perah cukup besar adalah Jawa Tengah dan Jawa Barat masing-masing 149,9 ribu ekor atau 25,11 persen dan 140 ribu ekor atau 23,44 persen dari total populasi sapi perah Indonesia.
Beberapa provinsi seperti Kepulauan Riau, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku, Maluku Utara, dan Papua Barat tidak dijumpai sama sekali sapi perah. Berbeda dengan populasi sapi potong dan sapi perah yang dominan di pulau Jawa, populasi kerbau cenderung tersebar merata secara regional/pulau di seluruh Indonesia. Populasi kerbau terbesar terdapat di Sumatera dengan jumlah 512,8 ribu ekor atau 39,30 persen dari total populasi kerbau Indonesia. Populasi kerbau pulau Jawa mencapai 363 ribu ekor atau 27,82 persen, kemudian pulau Bali dan Nusa Tenggara 257,6 ribu ekor atau 19,74 persen; pulau Sulawesi 110,4 ribu ekor atau 8,46 persen; pulau Kalimantan 41,5 ribu ekor atau 3,18 persen, serta pulau Maluku dan Papua 19,7 ribu ekor atau 1,51 persen dari populasi kerbau Indonesia. Dirinci menurut provinsi, populasi kerbau terbesar terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sebanyak 150 ribu ekor atau 11,50 persen dari populasi kerbau di Indonesia.
Provinsi lain dengan jumlah populasi kerbau tidak berbeda jauh dengan Nusa Tenggara Timur (NTT) berturut-turut adalah Aceh 131,5 ribu ekor atau 10,08 persen; Jawa Barat 130,1 ribu ekor atau 9,97 persen; Banten 123,1 ribu ekor atau 9,44 persen; Sumatera Utara 114,3 ribu ekor atau 8,76 persen; Nusa Tenggara Barat (NTB) 105,4 ribu atau 8,08 persen dan Sumatera Barat 100,3 ribu ekor atau 7,69 persen dari populasi kerbau Indonesia. Provinsi-provinsi lainnya mencatat populasi kerbau kurang dari 100 ribu ekor.
Secara umum hasil pendataan PSPK2011 menunjukkan bahwa populasi sapi potong, sapi perah, dan kerbau sebagian besar terdapat di Pulau Jawa. Besar kemungkinan karena beberapa faktor, diantaranya adalah tingkat kebutuhan/konsumsi daging di pulau Jawa relatif lebih besar jika dibandingkan dengan kebutuhan daging di luar pulau Jawa. Faktor lain adalah infrastruktur, teknologi dan industri peternakan yang lebih maju di pulau Jawa dibanding dengan daerah-daerah lainnya, terutama industri penyediaan pakan ternak sehingga subsektor peternakan dapat berkembang lebih baik.
sumber Rilis Hasil Awal PSPK 2011 Dirjenak

Peternakan Sapi Perah

Peternakan Sapi Perah
1. SEJARAH SINGKAT

Sapi adalah hewan ternak terpenting sebagai sumber daging, susu, tenaga
kerja dan kebutuhan lainnya. Sapi menghasilkan sekitar 50% (45-55%)
kebutuhan daging di dunia, 95% kebutuhan susu dan 85% kebutuhan kulit. Sapi
berasal dari famili Bovidae. seperti halnya bison, banteng, kerbau (Bubalus),
kerbau Afrika (Syncherus), dan anoa.
Domestikasi sapi mulai dilakukan sekitar 400 tahun SM. Sapi diperkirakan
berasal dari Asia Tengah, kemudian menyebar ke Eropa, Afrika dan seluruh
wilayah Asia. Menjelang akhir abad ke-19, sapi Ongole dari India dimasukkan
ke pulau Sumba dan sejak saat itu pulau tersebut dijadikan tempat pembiakan
sapi Ongole murni.
Pada tahun 1957 telah dilakukan perbaikan mutu genetik sapi Madura dengan
jalan menyilangkannya dengan sapi Red Deen. Persilangan lain yaitu antara
sapi lokal (peranakan Ongole) dengan sapi perah Frisian Holstein di Grati guna
diperoleh sapi perah jenis baru yang sesuai dengan iklim dan kondisi di
Indonesia.

2. SENTRA PERIKANAN

Sentra peternakan sapi di dunia ada di negara Eropa (Skotlandia, Inggris,
Denmark, Perancis, Switzerland, Belanda), Italia, Amerika, Australia, Afrika dan
Asia (India dan Pakistan). Sapi Friesian Holstein misalnya, terkenal dengan
produksi susunya yang tinggi (+ 6350 kg/th), dengan persentase lemak susu
TTG BUDIDAYA PETERNAKAN
Hal. 2/ 10
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
sekitar 3-7%. Namun demikian sapi-sapi perah tersebut ada yang mampu
berproduksi hingga mencapai 25.000 kg susu/tahun, apabila digunakan bibit
unggul, diberi pakan yang sesuai dengan kebutuhan ternak, lingkungan yang
mendukung dan menerapkan budidaya dengan manajemen yang baik. Saat ini
produksi susu di dunia mencapai 385 juta m2/ton/th, khususnya pada zone
yang beriklim sedang. Produksi susu sapi di PSPB masih kurang dari 10
liter/hari dan jauh dari standar normalnya 12 liter/hari (rata-ratanya hanya 5-8
liter/hari).
3. JENIS
Secara garis besar, bangsa-bangsa sapi (Bos) yang terdapat di dunia ada dua,
yaitu (1) kelompok yang berasal dari sapi Zebu (Bos indicus) atau jenis sapi
yang berpunuk, yang berasal dan tersebar di daerah tropis serta (2) kelompok
dari Bos primigenius, yang tersebar di daerah sub tropis atau lebih dikenal
dengan Bos Taurus.
Jenis sapi perah yang unggul dan paling banyak dipelihara adalah sapi
Shorhorn (dari Inggris), Friesian Holstein (dari Belanda), Yersey (dari selat
Channel antara Inggris dan Perancis), Brown Swiss (dari Switzerland), Red
Danish (dari Denmark) dan Droughtmaster (dari Australia).
Hasil survei di PSPB Cibinong menunjukkan bahwa jenis sapi perah yang
paling cocok dan menguntungkan untuk dibudidayakan di Indonesia adalah
Frisien Holstein.
4. MANFAAT
Peternakan sapi menghasilkan daging sebagai sumber protein, susu, kulit yang
dimanfaatkan untuk industri dan pupuk kandang sebagai salah satu sumber
organik lahan pertanian.
5. PERSYARATAN LOKASI
Lokasi yang ideal untuk membangun kandang adalah daerah yang letaknya
cukup jauh dari pemukiman penduduk tetapi mudah dicapai oleh kendaraan.
Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10 meter dan
sinar matahari harus dapat menembus pelataran kandang serta dekat dengan
lahan pertanian. Pembuatannya dapat dilakukan secara berkelompok di tengah
sawah atau ladang.
TTG BUDIDAYA PETERNAKAN
Hal. 3/ 10
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
Kandang dapat dibuat dalam bentuk ganda atau tunggal, tergantung dari jumlah
sapi yang dimiliki. Pada kandang tipe tunggal, penempatan sapi dilakukan pada
satu baris atau satu jajaran, sementara kandang yang bertipe ganda
penempatannya dilakukan pada dua jajaran yang saling berhadapan atau
saling bertolak belakang. Diantara kedua jajaran tersebut biasanya dibuat jalur
untuk jalan.
Pembuatan kandang untuk tujuan penggemukan (kereman) biasanya berbentuk
tunggal apabila kapasitas ternak yang dipelihara hanya sedikit. Namun, apabila
kegiatan penggemukan sapi ditujukan untuk komersial, ukuran kandang harus
lebih luas dan lebih besar sehingga dapat menampung jumlah sapi yang lebih
banyak.
Lantai kandang harus diusahakan tetap bersih guna mencegah timbulnya
berbagai penyakit. Lantai terbuat dari tanah padat atau semen, dan mudah
dibersihkan dari kotoran sapi. Lantai tanah dialasi dengan jerami kering sebagai
alas kandang yang hangat.
Seluruh bagian kandang dan peralatan yang pernah dipakai harus disuci
hamakan terlebih dahulu dengan desinfektan, seperti creolin, lysol, dan bahanbahan
lainnya.
Ukuran kandang yang dibuat untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5x2 m
atau 2,5x2 m, sedangkan untuk sapi betina dewasa adalah 1,8x2 m dan untuk
anak sapi cukup 1,5x1 m per ekor, dengan tinggi atas + 2-2,5 m dari tanah.
Temperatur di sekitar kandang 25-40 derajat C (rata-rata 33 derajat C) dan
kelembaban 75%. Lokasi pemeliharaan dapat dilakukan pada dataran rendah
(100-500 m) hingga dataran tinggi (> 500 m).
6.2. Pembibitan
Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh bibit sapi perah betina dewasa adalah:
(a) produksi susu tinggi, (b) umur 3,5-4,5 tahun dan sudah pernah beranak, (c)
berasal dari induk dan pejantan yang mempunyai keturunan produksi susu
tinggi, (d) bentuk tubuhnya seperti baji, (e) matanya bercahaya, punggung
lurus, bentuk kepala baik, jarak kaki depan atau kaki belakang cukup lebar
serta kaki kuat, (f) ambing cukup besar, pertautan pada tubuh cukup baik,
apabila diraba lunak, kulit halus, vena susu banyak, panjang dan berkelokkelok,
puting susu tidak lebih dari 4, terletak dalam segi empat yang simetris
dan tidak terlalu pendek, (g) tubuh sehat dan bukan sebagai pembawa penyakit
menular, dan (h) tiap tahun beranak.
TTG BUDIDAYA PETERNAKAN
Hal. 4/ 10
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
Sementara calon induk yang baik antara lain: (a) berasal dari induk yang
menghasilkan air susu tinggi, (b) kepala dan leher sedikit panjang, pundak
tajam, badan cukup panjang, punggung dan pinggul rata, dada dalam dan
pinggul lebar, (c) jarak antara kedua kaki belakang dan kedua kaki depan cukup
lebar, (d) pertumbuhan ambing dan puting baik, (e) jumlah puting tidak lebih
dari 4 dan letaknya simetris, serta (f) sehat dan tidak cacat.
Pejantan yang baik harus memenuhi kriteria sebagai berikut: (a) umur sekitar 4-
5 tahun, (b) memiliki kesuburan tinggi, (c) daya menurunkan sifat produksi yang
tinggi kepada anak-anaknya, (d) berasal dari induk dan pejantan yang baik, (e)
besar badannya sesuai dengan umur, kuat, dan mempunyai sifat-sifat pejantan
yang baik, (f) kepala lebar, leher besar, pinggang lebar, punggung kuat, (g)
muka sedikit panjang, pundak sedikit tajam dan lebar, (h) paha rata dan cukup
terpisah, (i) dada lebar dan jarak antara tulang rusuknya cukup lebar, (j) badan
panjang, dada dalam, lingkar dada dan lingkar perut besar, serta (k) sehat,
bebas dari penyakit menular dan tidak menurunkan cacat pada keturunannya.
1) Pemilihan Bibit dan Calon Induk
Untuk mengejar produktivitas ternak yang tinggi, diperlukan perbaikan
lingkungan hidup dan peningkatan mutu genetik ternak yang bersangkutan.
Bibit yang baru datang harus dikarantina untuk penularan penyakit.
Kemudian bibit diberi minum air yang dicampur garam dapur, ditempatkan
dalam kandang yang bersih dan ditimbang serta dicatat penampilannya.
2) Perawatan Bibit dan Calon Induk
Seluruh sapi perah dara yang belum menunjukkan tanda-tanda birahi atau
belum bunting setelah suatu periode tertentu, harus disisihkan. Jika sapi
yang disisihkan tersebut telah menghasilkan susu, sapi diseleksi kembali
berdasarkan produksi susunya, kecenderungan terkena radang ambing dan
temperamennya.
3) Sistim Pemuliabiakan
Seringkali sapi perah dara dikawinkan dengan pejantan pedaging untuk
mengurangi risiko kesulitan lahir dan baru setelah menghasilkan anak satu
dikawinkan dengan pejantan sapi perah pilihan. Bibit harus diberi
kesempatan untuk bergerak aktif paling tidak 2 jam setiap hari.
TTG BUDIDAYA PETERNAKAN
Hal. 5/ 10
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
6.3. Pemeliharaan
1) Sanitasi dan Tindakan Preventif
Pada pemeliharaan secara intensif sapi-sapi dikandangkan sehingga
peternak mudah mengawasinya, sementara pemeliharaan secara ekstensif
pengawasannya sulit dilakukan karena sapi-sapi yang dipelihara dibiarkan
hidup bebas. Sapi perah yang dipelihara dalam naungan (ruangan) memiliki
konsepsi produksi yang lebih tinggi (19%) dan produksi susunya 11% lebih
banyak daripada tanpa naungan.
Bibit yang sakit segera diobati karena dan bibit yang menjelang beranak
dikering kandangkan selama 1-2 bulan.
2) Perawatan Ternak
Ternak dimandikan 2 hari sekali. Seluruh sapi induk dimandikan setiap hari
setelah kandang dibersihkan dan sebelum pemerahan susu. Kandang harus
dibersihkan setiap hari, kotoran kandang ditempatkan pada penampungan
khusus sehingga dapat diolah menjadi pupuk. Setelah kandang dibersihkan,
sebaiknya lantainya diberi tilam sebagai alas lantai yang umumnya terbuat
dari jerami atau sisa-sisa pakan hijauan (seminggu sekali tilam tersebut
harus dibongkar).
Penimbangan dilakukan sejak sapi pedet hingga usia dewasa. Sapi pedet
ditimbang seminggu sekali sementara sapi dewasa ditimbang setiap bulan
atau 3 bulan sekali. Sapi yang baru disapih ditimbang sebulan sekali. Sapi
dewasa dapat ditimbang dengan melakukan taksiran pengukuran
berdasarkan lingkar dan lebar dada, panjang badan dan tinggi pundak.
3) Pemberian Pakan
Pemberian pakan pada sapi dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu:
a) sistem penggembalaan (pasture fattening)
b) kereman (dry lot fattening)
c) kombinasi cara pertama dan kedua.
Pakan yang diberikan berupa hijauan dan konsentrat. Hijauan yang berupa
jerami padi, pucuk daun tebu, lamtoro, alfalfa, rumput gajah, rumput
benggala atau rumput raja. Hijauan diberikan siang hari setelah pemerahan
sebanyak 30-50 kg/ekor/hari. Pakan berupa rumput bagi sapi dewasa
umumnya diberikan sebanyak 10% dari bobot badan (BB) dan pakan
tambahan sebanyak 1-2% dari BB.
Sapi yang sedang menyusui (laktasi) memerlukan makanan tambahan
sebesar 25% hijauan dan konsentrat dalam ransumnya. Hijauan yang berupa
rumput segar sebaiknya ditambah dengan jenis kacang-kacangan (legum).
TTG BUDIDAYA PETERNAKAN
Hal. 6/ 10
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
Sumber karbohidrat berupa dedak halus atau bekatul, ampas tahu, gaplek,
dan bungkil kelapa serta mineral (sebagai penguat) yang berupa garam
dapur, kapur, dll. Pemberian pakan konsentrat sebaiknya diberikan pada
pagi hari dan sore hari sebelum sapi diperah sebanyak 1-2 kg/ekor/hari.
Selain makanan, sapi harus diberi air minum sebanyak 10% dari berat badan
per hari.
Pemeliharaan utama adalah pemberian pakan yang cukup dan berkualitas,
serta menjaga kebersihan kandang dan kesehatan ternak yang dipelihara.
Pemberian pakan secara kereman dikombinasikan dengan penggembalaan
Di awal musim kemarau, setiap hari sapi digembalakan. Di musim hujan sapi
dikandangkan dan pakan diberikan menurut jatah. Penggembalaan bertujuan
pula untuk memberi kesempatan bergerak pada sapi guna memperkuat
kakinya.
4) Pemeliharaan Kandang
Kotoran ditimbun di tempat lain agar mengalami proses fermentasi (+1-2
minggu) dan berubah menjadi pupuk kandang yang sudah matang dan baik.
Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat (agak terbuka) agar sirkulasi udara
didalamnya berjalan lancar.
Air minum yang bersih harus tersedia setiap saat. Tempat pakan dan minum
sebaiknya dibuat di luar kandang tetapi masih di bawah atap. Tempat pakan
dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak atau
tercampur dengan kotoran. Sementara tempat air minum sebaiknya dibuat
permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi daripada permukaan
lantai. Sediakan pula peralatan untuk memandikan sapi.
7. HAMA DAN PENYAKIT
7.1. Penyakit
1) Penyakit antraks
Penyebab: Bacillus anthracis yang menular melalui kontak langsung,
makanan/minuman atau pernafasan. Gejala: (1) demam tinggi, badan lemah
dan gemetar; (2) gangguan pernafasan; (3) pembengkakan pada kelenjar
dada, leher, alat kelamin dan badan penuh bisul; (4) kadang-kadang darah
berwarna merah hitam yang keluar melalui hidung, telinga, mulut, anus dan
vagina; (5) kotoran ternak cair dan sering bercampur darah; (6) limpa
bengkak dan berwarna kehitaman. Pengendalian: vaksinasi, pengobatan
antibiotika, mengisolasi sapi yang terinfeksi serta mengubur/membakar sapi
yang mati.
TTG BUDIDAYA PETERNAKAN
Hal. 7/ 10
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
2) Penyakit mulut dan kuku (PMK) atau penyakit Apthae epizootica (AE)
Penyebab: virus ini menular melalui kontak langsung melalui air kencing, air
susu, air liur dan benda lain yang tercemar kuman AE. Gejala: (1) rongga
mulut, lidah, dan telapak kaki atau tracak melepuh serta terdapat tonjolan
bulat berisi cairan yang bening; (2) demam atau panas, suhu badan menurun
drastis; (3) nafsu makan menurun bahkan tidak mau makan sama sekali; (4)
air liur keluar berlebihan. Pengendalian: vaksinasi dan sapi yang sakit
diasingkan dan diobati secara terpisah.
3) Penyakit ngorok/mendekur atau penyakit Septichaema epizootica (SE)
Penyebab: bakteri Pasturella multocida. Penularannya melalui makanan dan
minuman yang tercemar bakteri. Gejala: (1) kulit kepala dan selaput lendir
lidah membengkak, berwarna merah dan kebiruan; (2) leher, anus, dan vulva
membengkak; (3) paru-paru meradang, selaput lendir usus dan perut masam
dan berwarna merah tua; (4) demam dan sulit bernafas sehingga mirip orang
yang ngorok. Dalam keadaan sangat parah, sapi akan mati dalam waktu
antara 12-36 jam. Pengendalian: vaksinasi anti SE dan diberi antibiotika
atau sulfa.
4) Penyakit radang kuku atau kuku busuk (foot rot)
Penyakit ini menyerang sapi yang dipelihara dalam kandang yang basah dan
kotor. Gejala: (1) mula-mula sekitar celah kuku bengkak dan mengeluarkan
cairan putih keruh; (2) kulit kuku mengelupas; (3) tumbuh benjolan yang
menimbulkan rasa sakit; (4) sapi pincang dan akhirnya bisa lumpuh.
7.2. Pencegahan Serangan
Upaya pencegahan dan pengobatannya dilakukan dengan memotong kuku dan
merendam bagian yang sakit dalam larutan refanol selama 30 menit yang
diulangi seminggu sekali serta menempatkan sapi dalam kandang yang bersih
dan kering.
8. PANEN
8.1. Hasil Utama
Hasil utama dari budidaya sapi perah adalah susu yang dihasilkan oleh induk
betina.
8.2. Hasil Tambahan
Selain susu sapi perah juga memberikan hasil lain yaitu daging dan kulit yang
berasal dari sapi yang sudah tidak produktif serta pupuk kandang yang
dihasilkan dari kotoran ternak.
TTG BUDIDAYA PETERNAKAN
Hal. 8/ 10
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
9. PASCAPANEN
10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA
10.1.Analisis Usaha Budidaya
Usaha ternak sapi perah di Indonesia masih bersifat subsisten oleh peternak
kecil dan belum mencapai usaha yang berorientasi ekonomi. Rendahnya
tingkat produktivitas ternak tersebut lebih disebabkan oleh kurangnya modal,
serta pengetahuan/ketrampilan petani yang mencakup aspek reproduksi,
pemberian pakan, pengelolaan hasil pascapanen, penerapan sistem recording,
pemerahan, sanitasi dan pencegahan penyakit. Selain itu pengetahuan petani
mengenai aspek tata niaga harus ditingkatkan sehingga keuntungan yang
diperoleh sebanding dengan pemeliharaannya.
Produksi susu sapi di dunia kini sudah melebihi 385 juta m2/ton/th dengan
tingkat penjualan sapi dan produknya yang lebih besar daripada pedet,
pejantan, dan sapi afkiran. Di Amerika Serikat, tingkat penjualan dan pembelian
sapi dan produknya secara tunai mencapai 13% dari seluruh peternakan yang
ada di dunia. Sementara tingkat penjualan anak sapi (pedet), pejantan sapi
perah, dan sapi afkir hanya berkisar 3%. Produksi susu sejumlah itu masih
perlu ditingkatkan seiring dengan peningkatan jumlah penduduk di dunia ini.
Untuk mencapai tingkat produksi yang tinggi maka pengelolaan dan pemberian
pakan harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan ternak, dimana minimum
pakan yang dapat dimanfaatkan oleh ternak (terserap) diusahakan sekitar 3,5-
4% dari bahan kering
10.2.Gambaran Peluang Agribisnis
Usaha peternakan sapi perah keluarga memberikan keuntungan jika jumlah
sapi yang dipelihara minimal sebanyak 6 ekor, walaupun tingkat efisiensinya
dapat dicapai dengan minimal pengusahaannya sebanyak 2 ekor dengan ratarata
produksi susu sebanyak 15 lt/hari. Upaya untuk meningkatkan pendapatan
petani melalui pembudidayaan sapi perah tersebut dapat juga dilakukan
dengan melakukan diversifikasi usaha. Selain itu melakukan upaya kooperatif
dan integratif (horizontal dan vertikal) dengan petani lainnya dan instansiinstansi
lain yang berkompeten, serta tetap memantapkan pola PIR diatas.
TTG BUDIDAYA PETERNAKAN
Hal. 9/ 10
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
11. DAFTAR PUSTAKA
1) Anonim. [ ]. Pedoman beternak sapi perah. Purwokerto, Balai Pembibitan
Ternak dan Hijauan Makanan Ternak. 2 hal. (brosur).
2) Anonim. 1983. Petunjuk cara-cara penggunaan obat-obatan ternak.
Samarinda, Dinas Peternakan Kalimantan Timur. 12 hal.
3) Anonim. 1988. Kondisi peternakan sapi perah dan kualitas susu di pulau
Jawa. Buletin PPSKI, 5 (27) 1988: 39-40.
4) Anonim. 1988. Pemerahan, satu faktor penentu jumlah air susu. Swadaya
Peternakan Indonesia, (42) 1988: 23-24.
5) Anonim. 1988. Upaya peningkatan kesejahteraan peternak melalui
peningkatan efisiensi produksi. Buletin PPSKI, 5 (27) 1988: 16-24.
6) Bandini, Yusni. 1997. Sapi Bali. Cet 1. Jakarta, Penebar Swadaya. 73 hal.
6) Church, D.C. 1991. Livestock feeds and feeding. 3 ed. New Jersey,
Prentice-Hall, Inc.: 278-279.
7) Djaja, Willian. 1988. Hidup bersih dan sehat di peternakan sapi perah.
Buletin PPSKI, 5 (27) 1988: 25-26.
8) Djarijah, Abbas Sirega. 1996. Usaha ternak sapi. Yogyakarta, Kanisius. 43
hal.
9) Fox, Michael W. 1984. Farm animals: husbandry, behavior, and veterinary
practice. Baltimore Maryland, University Park Press: 82-112; 150.
10) Ginting, Eliezer. 1988. Bimbingan dan penyuluhan usaha sapi perah rakyat
di Jawa Timur. Buletin PPSKI, 5 (27) 1988: 27-33.
11) Hehanussa, P.E. 1995. Rencana induk Life Science Center-Cibinong.
Limnotek, 3 (1) 1995: 1-34.
12) Hermanto. 1988. Bagaimana cara penanganan sapi perah pada masa
kering? Swadaya Peternakan Indonesia, (42) 1988: 24-25.
13) Nienaber, J.A., et al. 1974. Livestock environment affects production and
health. Proceedings of the International Livestock Environment Conference.
St. Joseph, American Society of Agricultural Engineers.
14) Pane, Ismed. 1986. Pemuliabiakan ternak sapi. Jakarta, PT. Media: 1-38;
133.
15) Sabrani, M. 1994. Teknologi pengembangan sapi Sumba Ongole. Jakarta,
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian: 15-26.
16) Suryanto, Bambang; Santosa, Siswanto Imam; Mukson. 1988. Ilmu Usaha
Peternakan. Semarang, Fakultas Peternakan UNDIP. 63 hal.
17) Warudjo, Bambang 1988. Kualitas dan harga susu. Buletin PPSKI, 5 (27)
1988: 34-38.
TTG BUDIDAYA PETERNAKAN
Hal. 10/ 10
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
12. KONTAK HUBUNGAN
1) Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS
Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829
2) Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, Deputi Bidang Pendayagunaan
dan Pemasyarakatan Iptek, Gedung II BPPT Lantai 6, Jl. M.H.Thamrin No. 8,
Jakarta 10340, Indonesia, Tel. +62 21 316 9166~69, Fax. +62 21 310 1952,
Situs Web: http://www.ristek.go.id
Jakarta, Maret 2000
Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas
Editor : Kemal Prihatman
KEMBALI KE MENU ,;'/

/'

Rabu, 05 September 2012

Budidaya Sapi Perah

Peternak Sapi Perah Tuntut Harga Susu Segar yang Rasional

 

 

Susu merupakan bahan makanan yang kaya gizi dan sangat dibutuhkan semua lapisan masyarakat. Negara yang maju adalah negara yang peternakannya maju dan negara yang maju masyarakatnya gemar minum susu. Hal tersebut tidak dapat dipisahkan, karena susu merupakan bahan makanan yang kaya gizi menyehatkan dan mencerdaskan anak bangsa.

Akhir-akhir ini susu menjadi bahan pemberitaan berbagai media massa, dengan isu pokok meningkatnya harga jual produk susu dari pabrik. Infovet menyampaikan suara dari Asosiasi Peternak Sapi Perah Indonesia (APSPI) yang berusaha memberikan informasi kemasyarakat luas tentang permasalahan tersebut.

Sampai sejauh ini produksi susu dalam negeri baru bisa memenuhi 30% kebutuhan bahan baku susu segar Industri Pengolah Susu (IPS), sedangkan yang 70 % lagi IPS harus mengimpor dari berbagai negara. Sementara itu konsumsi susu masyarakat Indonesia baru 7,5 kg/kapita/tahun, sangat jauh bila dibanding negara lain tingkat regional ASEAN.

Pertanyaannya kenapa produksi susu dalam negeri hanya mampu memenuhi 30% kebutuhan IPS? Hal tersebut bisa terjadi karena selama ini peternakan sapi perah belum menarik minat banyak investor yang diakibatkan rendahnya harga susu segar yang diterima oleh peternak. Bisa dikatakan peternak sapi perah belum bisa menikmati dari hasilnya beternak.

Puncaknya, peternak di daerah tertentu yang merasa susu dari sapi perahnya tak lagi menguntungkan dari yang seharusnya dijual ke koperasi kemudian mengalihkan susunya untuk konsumsi pedetnya dan yang lebih tragisnya sapi perah dialih fungsikan untuk pedaging alias dipotong.

Saat ini harga susu segar ditingkat peternak berkisar Rp 2.400 hingga Rp 2.600 per liter susu segar. Sementara itu harga susu dunia per liter berkisar antara Rp.6.000-an. Mengapa IPS membeli susu segar dari peternak kita jauh lebih murah bila dibandingkan dengan mereka membeli susu segar dari luar? Tentunya tak semata karena pertimbangan perbandingan kualitas susu dalam dan luar negeri kan.

APSPI melalui ketuanya H Masngut Imam S mengusulkan bahwa sebaiknya untuk membangkitkan semangat para peternak sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak sapi perah, harga susu segar dalam negeri sampai IPS selisihnya 10% - 20% dibawah harga susu dunia dengan syarat kualitas yang sama. Dengan harga susu dunia per liter Rp 6.000 maka harga susu segar dalam negeri sampai IPS harus dibeli Rp 3.800 – Rp 4.200. Dengan harga tersebut sebenarnya para IPS mampu, nyatanya IPS masih impor sebanyak 70% dari total kebutuhan bahan bakunya dengan harga Rp 6000/liter. Sehingga apabila membeli susu segar dalam negeri semisal Rp 4.200/liter, IPS masih ada selisih biaya pengadaan bahan baku Rp 1.800/liter bila dibandingkan dengan impor.

IPS sendiri juga harus mempertimbangkan biaya yang harus dikeluarkan oleh para peternak untuk menghasilkan satu liter susu. Dengan harga susu segar ditingkat peternak minimal Rp. 3.000 akan sangat mendorong semangat para peternak sapi perah untuk terus menambah populasi dan memotivasi pihak lain untuk ikut beternak sapi perah dan akan menarik minat para investor ataupun perbankan guna membiayai peternakan sapi perah yang pada akhirnya akan meningkatkan produksi susu nasional.

“Permintaan kami agar harga susu segar dalam negeri hanya terpaut 10% – 20% dibawah harga susu dunia. Kami mengharapkan IPS dalam menentukan harga susu segar dalam negeri perlu mempertimbangkan biaya yang dikeluarkan oleh peternak untuk menghasilkan satu liter susu segar, sehingga harga yang diterima peternak akan layak. Sedangkan masuknya susu impor dari Malaysia kami tidak mempermasalahkan dari Negara manapun, karena kami percaya masuknya susu dari Malaysia tentu sudah terdaftar pada instansi berwenang yaitu POM dengan label tertentu,” ujar H Masngut.

Belakangan ini harga susu formula melambung tinggi, sehingga membuat masyarakat resah dan melakukan aksi borong produk. Seharusnya IPS tidak perlu menaikkan harga sementara ini, mengingat margin harga jual susu formula selama ini cukup tinggi maka dengan tidak menaikkan harga jual masih menguntungkan meskipun harga susu segar naik.

Ir Suharto MS Sekjen APSPI menambahkan, untuk meningkatkan produk susu dalam negeri tidak mesti harus impor susu, tetapi masih ada jalan lain yaitu menambah populasi dengan jalan impor induk sapi perah. Untuk mendukung pertambahan populasi, peternak sapi perah yang sudah ada juga harus berfungsi sebagai pembibit sapi perah, pedet yang mereka hasilkan harus diarahkan menjadi induk sapi perah yang baik.

“Diseleksi dari awal yang memenuhi kriteria di besarkan untuk calon induk, sedangkan yang tidak baik maupun pedet jantan langsung diarahkan sebagai sapi potong, hal ini bisa membantu untuk memenuhi kebutuhan daging dan mendukung program kecukupan daging 2010,” jelas Suharto.

Lebih lanjut Suharto memaparkan, usaha pembibitan sapi perah dinilai tidak menarik bagi investor yang disebabkan oleh nilai investasi cukup tinggi dengan nilai keuntungan yang sangat tipis. Untuk itu kami mengusulkan ke semua Pemerintah Daerah yang ada sapi perahnya untuk dapat menyisihkan APBDnya sebesar 1- 2% untuk diinvestasikan dibidang sapi perah. Teknisnya adalah pinjaman lunak berjangka panjang, dari 1-2 % tersebut dibagi lagi menjadi dua. Dimana setengahnya untuk membiayai pembibitan dan setengahnya lagi untuk program rearing (pembesaran pedet).

Secara teknis Suharto menjelaskan usulannya lebih rinci, “Untuk program pembibitan bunga yang kami usulkan adalah sebesar 5% per tahun dengan jangka waktu pengembalian 5 tahun, sedangkan untuk program rearing sebesar 6% per tahun dengan jangka waktu pengembalian 3 tahun. Karena dana tersebut bersumber dari APBD yang hakekatnya milik rakyat, maka dana tersebut harus bisa kembali ke kas negara sesuai jadwal. Untuk itu yang dapat meminjam dana tersebut harus memenuhi beberapa syarat yaitu 1) peternak berpengalaman, 2) memiliki sapi dan kandang, 3) memiliki jaminan bisa berupa sertifikat ataupun yang lain dan 4) memiliki ijin usaha.”

Sebagai penutup APSPI menghimbau ke semua masyarakat agar tidak panik merespon naiknya harga susu pabrikan, toh yang naik hanya produk susu jenis formula yang lebih dikhusukan pada bayi, sedangkan jenis yang lain tidak mengalami kenaikan.

Untuk itu saran APSPI bila susu formula harganya terus melambung maka sebaiknya berilah ASI (air susu ibu) sampai bayi umur 1 tahun, janganlah enggan untuk menyusui bayi. Setelah bayi umur 1 tahun berilah produk susu yang harganya lebih terjangkau dan murah seperti: susu pasteurisasi, UHT, lebih-lebih susu murni dari sapi, mudah bukan! (wan)